lubang hitam adalah wilayah ruang-waktu di mana gravitasi mencegah apa pun, termasuk cahaya, melarikan diri [1] Teori relativitas umum memprediksi bahwa massa yang cukup kompak akan merusak ruang-waktu untuk membentuk lubang hitam.. Sekitar lubang hitam ada permukaan matematis didefinisikan disebut cakrawala peristiwa yang menandai point of no return. Hal ini disebut "hitam" karena menyerap semua cahaya yang hits cakrawala, yang mencerminkan apa-apa, seperti sebuah benda hitam sempurna dalam termodinamika [2] [3] Quantum teori medan dalam ruang-waktu melengkung memprediksi bahwa cakrawala peristiwa memancarkan radiasi seperti hitam. tubuh dengan suhu terbatas. Suhu ini berbanding terbalik dengan massa lubang hitam, sehingga sulit untuk mengamati radiasi ini untuk lubang hitam massa bintang atau lebih.
Benda yang medan gravitasi terlalu kuat untuk cahaya untuk melarikan diri pertama kali dipertimbangkan dalam abad ke-18 oleh John Michell dan Pierre-Simon Laplace. Solusi modern pertama relativitas umum yang akan mencirikan lubang hitam ditemukan oleh Karl Schwarzschild pada tahun 1916, meskipun interpretasi sebagai daerah ruang dari mana tidak ada yang bisa lolos tidak sepenuhnya dihargai selama empat dekade. Lama dianggap sebagai keingintahuan matematika, itu selama tahun 1960-an bahwa pekerjaan teoritis menunjukkan lubang hitam adalah prediksi generik relativitas umum. Penemuan bintang neutron memicu minat dalam objek kompak gravitasi runtuh sebagai realitas astrofisika mungkin.
Lubang hitam massa bintang diharapkan terbentuk ketika runtuhnya sangat besar bintang pada akhir siklus hidup mereka. Setelah lubang hitam telah terbentuk itu dapat terus tumbuh dengan menyerap massa dari lingkungannya. Dengan menyerap bintang lainnya dan bergabung dengan lubang hitam lain, lubang hitam supermasif jutaan massa matahari dapat terbentuk. Ada konsensus umum bahwa lubang hitam
Senin, 18 Februari 2013
Awal mula terjadinya lubang hitam
Minggu, 17 Februari 2013
tata surya
Raksasa-Raksasa Penghirup Gas
Tahukah kalian, kalian itu terbuat dari debu bintang? Memang benar, kita semua terbuat dari materi tersebut, begitu juga Bumi! Hampir semuanya terbuat dari materi-materi yang terbentuk di pusat sebuah bintang. Apa pun yang tidak terbentuk di dalam sebuah bintang memiliki materi yang sama seperti bintang-bintang—contohnya planet-planet gas, seperti Jupiter dan Saturnus. Setelah kalian tahu bahwa planet-planet ini terbuat dari materi sisa di sekitar bintang-bintang yang sedang terbentuk, ini masuk akal!
Ketika sebuah bintang lahir, jauh di dalam segumpal awan gas dan debu kosmis, materi yang tersisa membentuk sebuah cakram di sekelilingnya (seperti cincin-cincin Saturnus). Butiran-butiran batu kecil di dalam cakram kemudian saling bertabrakan dan kadang-kadang menyatu, membentuk objek-objek yang semakin lama semakin besar. Seperti inilah planet-planet lahir.
Semakin banyak materi yang ditarik planet, semakin besar ukurannya. Namun, planet-planet makan dengan sangat berantakan. Saat planet-planet raksasa penghirup gas makan, mereka menarik gas dari cakram dalam aliran-aliran panjang. Nyaris mustahil melihat planet-planet terbentuk, karena gas dan debu di dalam cakram menyembunyikan mereka dari pandangan. Tetapi, dengan menggunakan sebuah teleskop raksasa baru berkekuatan tinggi bernama ALMA, para astronom telah melihat bahwa aliran-aliran gas itu mengalir dari cakram pembentuk planet di sebuah bintang muda di dekat Tata Surya kita! Karena ada lebih dari satu aliran, mungkin sekelompok planet raksasa tengah terbentuk!
Fakta Menarik: Tahukah kalian, Tata Surya kita sendiri memiliki empat raksasa gas? Mereka semua berada di “Bagian Luar Tata Surya”, lebih jauh dari Mars. Mereka adalah Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus. Jupiter adalah yang terbesar: 1.300 planet seukuran Bumi bisa muat di dalamnya!
Dimana Sisa Supernova Pembentuk Tata Surya?
Ada ungkapan “Apel jatuh tidak jauh dari pohonnya”, cuma saya tidak bertanya Apelnya Newton. Kembali ke pembentukan Tatasurya. Bahwa kelahiran Tata Surya dipicu oleh ledakan supernova. Pertanyaannya, dimanakah sisa bintang supernova ini yang dicurigai sebagai pemicu terbentuknya tatasurya kita. trims (Sahudi Oke – Bandung) Selama ini orang beranggapan bahwa supernova yang memicu pembentukan bintang. Jadi, gelombang kejut dari ledakan supernova diduga kuat memicu keruntuhan materi di awan molekul yang kemudian membentuk matahari dan planet-planetnya.Untuk mengetahui dimana si supernova itu berada kita harus terlebih dahulu mengetahui dimana Matahari berada 4,6 milyar tahun yang lalu. Tapi saat ini para astronom justru melihat ada kemungkinan lain karena mereka tidak menemukan jejak supernova di sekitar Embedded Cluster (EC). Nah, Embedded Cluster atau EC adalah gugus bintang yang sebagian besar bintangnya diselimuti debu dan gas antar bintang.
Para astronom menemukan ada gugus bintang yang bisa runtuh sendiri tanpa diketahui pasti apa pemicunya. Bisa jadi keruntuhan disebabkan oleh interaksi di dalam gugus, tabrakan antar gugus atau bahkan tabrakan lengan spiral. Si gas awan molekular kemudian runtuh dan membentuk gugus kelahiran bintang. Di sini kemudian terbentuk banyak bintang dan ada diantaranya yang bermassa besar dengan usia beberapa juta tahun dan meledak.
Untuk Matahari, kita harus terlebih dahulu menelusuri kembali kira-kira dimana lokasi Matahari dilahirkan. Ini dikarenakan keberadaan Matahari yang kita tahu adalah keberadaannya saat ini. Tapi darimana ia berasal di masa lalu masih misteri. Seperti seorang pengelana yang coba mencari di mana tanah kelahirannya.
Bagaimana dengan Matahari? Saat ini usianya sudah 4,5 milyar tahun dan di dalam galaksi Bimasakti Matahari bergerak mengelilingi pusat galaksi. Kalau dihitung, sejak kelahirannya Matahari sudah mengelilingi pusat galaksi 20 – 30 kali. Dalam rentang waktu sedemikian lama apapun bisa terjadi pada sisa supernova tersebut. Jejak supernova akan mudah tersapu hilang akibat interaksi antar bintang dan interaksi materi antar bintang disekitarnya.
Tapi para astronom tetap mencari jejak Matahari ketika ia lahir. Seperti mencari jejak dimana seorang anak yang sudah mengebara puluhan tahun dulu dilahirkan. Para astronom menelusuri kembali posisi Matahari 4,6 milyar tahun lalu dengan menganggap galaksi statis. Dari situ diketahui lokasi Matahari 4,6 milyar tahun lalu. Tapi tidak semudah itu!
Dengan mengasumsikan galaksi statis permasalahan belum selesai. Permasalahan lain adalah lengan spiral ataupun gangguan molekular yang mengacak gerakan si Matahari. Akibatnya astronom jadi sulit mengetahui dimana posisi Matahari pada masa awal pembentukkannya.
Jika sudah ditemukan jejak Matahari 4,5 milyar tahun lalu dan ada gugus yang kalau ditelusuri kembali keberadaannya di masa lalu letaknya dekat dengan Matahari, maka yang harus dilakukan kemudian adalah menelusuri bintang-bintang “saudara Matahari” dalam radius 100 parsek. Ini disebut pencarian keluarga Matahari.
Mengapa harus mencari bintang keluarga Matahari?
Pada umumnya bintang itu lahir di dalam gugus bintang meskipun ada juga bintang yang lahir sendiri dan tidak di dalam gugus. Tapi kelahiran bintang yang lahir sendiri ini sangat sedikit. Karena itu asumsi utamanya, Matahari lahir di dalam gugus. Pertanyaannya sekarang, gugusnya ada dimana? Apakah si gugus masih ada ataukah sudah hancur.
Jika Matahari lahir di dalam gugus maka kemungkinan ada bintang-bintang lain yang juga lahir di dalam gugus yang sama. Karena itu dicari teman-teman Matahari yang lahir pada waktu bersamaan yang ditandai oleh komposisi kimia yang sama. Dengan demikian pencarian difokuskan pada bintang-bintang yang memiliki komposisi kimia yang sama. Usia bintang sulit dihitung dengan detil berbeda dengan Bumi yang bisa dihitung dengan detil.
Saat ini ada beberapa kandidat yang diduga merupakan saudara Matahari karena memiliki komposisi kimia yang mirip. Akan tapi masih harus diteliti lagi apakah bintang-bintang tersebut lahir pada saat bersamaan atau tidak.
Permasalahan berikutnya, jika lahir di dalam gugus maka ada kemungkinan gugus tempat kelahiran itu sudah hancur karena rata-rata kala hidup sebuah gugus hanya 100 juta tahun. Lebih dari 100 juta tahun sebagian besar gugus sudah terurai bahkan ada yang kurang dari 100 juta tahun pun sudah terurai sehingga sulit untuk dicari gugusnya.
Tapi meskipun gugusnya sudah tidak ada lagi, para astronom masih bisa menelusuri jejak masa lalu dari bintang-bintang yang komposisi kimianya mirip.
Ada beberapa dugaan bahwa nebula Matahari yang membentuk Tata Surya bukan berasal dari supernova melainkan dikotori oleh angin bintang dari bintang-bintang AGB (Asymptotic Giant Branch – bintang-bintang raksasa merah) di gugus. Tapi memang kemungkinan terkuat adalah keberadaan supernova dari bintang muda yang meledak atau si supernova dari bintang muda tadi hanya mengotori nebula Matahari yang saat itu sudah membentuk planet-planet.
Salah satu kandidat saudara kembar matahari adalah bintang di gugus M67 yang memiliki usia tak jauh dari Matahari. Tapi para astronom masih meragukan bahwa gugus M67 tersebut tempat lahirnya matahari, karena dari simulasi orbit, matahari dan gugus M67 tidak pernah berdekatan dalam jarak kurang dari 20 parsek.
Tapi dimanakah supernova atau si gugus kelahiran Matahari masih terus dicari dan belum diketahui keberadaannya karena tidak mudah menelusuri kembali jejak masa lalu Matahari.
jika ada pertanyan silakan tulis ditepat komentar yah!
Langganan:
Postingan (Atom)
